Salon bersalon

Menjadi panitia pernikahan anak dari bos di kantorku merupakan agenda dadakan yang gak pernah terpikirkan olehku.. Namun karena namaku sudah terpampang di buku susunan panitia yang berfungsi sekaligus sebagai undangan mau tak mau harus siap sedia tentunya😀

Agak terkejut siy dalam hati, abis di antara deretan nama itu aku termasuk di daftar penjaga buku tamu (yang otomatis bergabung juga dengan souvenir). Maklumlah, aku yang baru saja memasuki usia kepala 3 ini sangat menyadari bahwa gak cocok lagi rasanya untuk ditempatkan di buku tamu secara biasanya kan yang masih gadis dan paling tidak yang usianya masih kepala 2. Kaget tapi sekaligus happy karena (mungkin) tandanya wajahku masih bisa menipu hahaha.

Well dengan segala keterbatasan yang ada, aku berusaha seoptimal mungkin untuk dapat menjalankan tugasku. Tempat tinggal yang berjarak 2 jam perjalanan ke tempat acara pernikahan membuatku harus memutar otak untuk mempersiapkan segala sesuatunya mengingat waktunya udah mepet banget (judulnya aja dadakan). Jadi sejak semalam menjelang keberangkatan aku udah sibuk packing-packing. Hahaha itulah cewek yach, yang serba ribet walau untuk perjalanan 1 hari sajah tanpa menginap. Kecenderungan serba terencana dan perfeksionis bisa jadi salah 2 alasannya😀

Persiapannya tentu saja baju yang akan dikenakan pada saat acara. Baju yang ditentukan adalah kebaya. Sayangnya aku gak dapat baju seragam meski menjadi penjaga buku tamu. Kebaya terkini yang kumiliki pun sebenarnya gak bagus-bagus banget karena ‘hanya’ dibuat untuk acara wisuda sarjana suamiku pada bulan April 2012 yang lalu. Otomatis modelnya simpel, pernak-perniknya pun ala kadarnya. Tapi lantaran tidak ada alternatif lain, dengan sangat terpaksa kebaya yang sudah tergantung dengan rapi di gantungan baju dan terbungkus plastik transparan itu muncul kembali hihihi.

Bagian paling membingungkan adalah pada saat padu padan. Jilbab yang kupakai waktu wisuda suamiku itu hanyalah jilbab model langsung jadi sehingga sangat praktis. Kulirik jajaran jilbab katun paris polos yang kumiliki. Haish, tak ada satupun yang menurutku cocok. Akhirnya lagi-lagi aku harus dengan terpaksa memilih warna yang paling mendekati. Berbekal songket warna ungu hasil pinjaman (maklum aku belum sempat membeli songket Palembang meski sudah hampir 2 tahun tinggal disini) kupadankan dengan kebaya warna coklat keoranye-oranyean akupun lantas memilih jilbab warna kuning gradasi hingga oranye serta ungu dengan gradasi lebih tua dan lebih muda.

Sambil terus mengingat dengan keras apa lagi yang bakal dibutuhkan pada saat acara pernikahan nanti, aku pun sambil bergugam dalam hati bahwa aku bisa sangat yakin hasil make upnya bakal menutupi kekurangan kekurangmatching-an inih karena temanku sudah membuat janji di salon terkenal.

Singkat cerita, aku yang berangkat bersama suami pun sampai di Palembang. Acara diselenggarakan malam hari sehingga kami masih punya banyak waktu untuk berkeliling. So, daripada membuang waktu kami pun mengisinya dengan berobat alternatif. Untuk pengobatan alternatif ini bakal kuceritain di blog lain yach biar kali ini fokus ke 1 cerita dulu. Dari waktu yang dijanjikan (kami membuat janji untuk melakukan rias wajah tepat jam 4 di salon tersebut), kami molor setengah jam sajah. Hari Minggu gitu loh, kan maceeeet, lagian ternyata dengan datang molor itu ternyata perkiraan waktu kami tepat. Kami datang ke tempat acara tidak terlalu cepat dan juga tidak terlambat.

Tiba di salon yang sudah ditentukan, aku berdua dengan temanku (suamiku muter-muter sajah ke masjid lalu mengisi galon air minum) pun langsung menuju ruang rias. Rupanya ruang riasnya ada beberapa ruangan yang disekat. Aku sendiri langsung diarahkan oleh salah seorang mbak perias untuk duduk di salah satu kursi dengan cermin di depannya. Jilbab dan ciput cepol yang kupakai sudah kubuka sesuai permintaan perias (periasnya tentu saja seorang perempuan karena jika tidak, aku gak mau membukanya). Langkah yang pertama dilakukannya adalah merapikan alisku yang lumayan tebal tapi tak tentu arah tumbuhnya inih. Dari gayanya siy tampak meyakinkan sekali jadi aku pasrahkan segala sesuatunya kepada perias tersebut.

Langkah selanjutnya (bukan membersihkan wajah seperti biasanya) adalah memakaikan alas bedak kryolan dengan spons basah. Agak terkejut juga siy soalnya gak ditanya dulu apa wajahnya sudah dibersihkan atau belum. Well, dari gayanya memoleskan alas bedak tampak meyakinkan juga. Setelah alas bedak menutupi keseluruhan wajahku (jadi semacam abis didempul dah hihihi), perias asyik memoles bedak ke wajahku. Nice, menutup alas bedak dengan rapi.

Bagian yang paling kutakuti adalah saat merambah wilayah mata.

Hikzzz, mata sensitif inih membuatku harus rela setiap saat menahan perih sewaktu disulap oleh perias.

Agak syok juga siy waktu merasakan perias itu sekonyong-konyong memoleskan lem bulu mata langsung ke kedua kelopak mata bagian atasku. Lem yang dipergunakan pun warnanya putih. Mulai agak menurun deh skornya jadinya. Trus arahan-arahannya itu gak jelas. Bilang kek: “Mbak, buka matanya” atau “coba tutup mata, mbak” atau “jangan buka mata dulu ya mbak, tunggu lemnya agak kering”. Mana chemistry aku dengan perias itu pun gak nampel sama sekali. Aku pas buka, dia bilang mbak merem dulu. Membingungkan judulnya.

Sambil merem menunggu lem kering, periasnya menggunting ujung bulu mata supaya gak sakit saat mengedip. Sudah selesai digunting barulah aku disuruh melek tapi melihat ke bawah. Kiri dan kanan, bulu mata artifisial sudah menempel dengan pasti di kedua mata atasku. Urusan bulu mata selesai, berlanjut ke perona mata (eye shadow). Dia bilang pakai yang netral saja ya mbak meski (acaranya) malam. Yo wis, nurut aja karena emang kurang suka juga siy klo terlalu heboh. Berhubung lagi gak pake kacamata dan jarak antara aku duduk dengan cermin sudah mengaburkan pandanganku, aku gak tau persis warna netral yang dimaksud si perias itu diaplikasikan seperti apa. Sepanjang rias-merias itu aku dan perias sempet ngobrol-ngobrol mencoba membangun chemistry. Tapi gak melulu denganku dia ngobrol melainkan dengan perias lainnya. Malah keliatannya dia deh yang paling heboh kalau bercerita. Kalau begitu kan dia jadi kurang konsen ama kerjaannya😦

Giliran perona pipi yang diaplikasikan ke wajahku. Tapi, betapa terkejutnya aku karena periasnya tiba-tiba flu dan bersin di dekat wajahku. Huaaaaaaa!!!! Oh NO!!! Gak lama aku pun ikut bersin karena cara dia menyapukan kuas blush on gak teratur, termasuk kena mataku. Hikz, mulai ilfil jadinya.

Lalu kulihat perlahan-lahan sambil menyipitkan mata ke arah cermin. Maklum bagi seseorang yang matanya sudah menderita silindris sepertiku, perlu upaya lebih untuk melihat di bawah cahaya lampu (yang mungkin bagi orang lain tidak menyilaukan). Aku mulai merasakan ada penempatan bulu mata yang kurang sinkron. Eye shadow yang diterapkan pun tidak terlihat menonjol sama sekali karena saking netralnya. Huaaaa!!! Skor menukik turun drastis jadinya.

Beberapa kali bulu matanya sempat digunting karena aku bilang aku menggunakan kacamata sehingga tidak perlu terlalu panjang ukuran bulu mata yang dipakai. Trus, yang paling ilfil itu saat memoles pemulas bibir. Gak ditanya sama sekali pakai kebaya warna apa. Jadinya kebayaku yang keoranye-oranyean itu harus rela bertabrakan dengan pemulas bibir warna pink terang😦.. Mana aku gak bawa lipstik andalanku jadi cuma bisa pasrah.

Semakin menjadi deh waktu saat mengaplikasikan blush on sambil bersin-bersin, mbak itu cerita dia hari itu bakal dijemput suaminya. Eh hanya berselang 5 menit dari dia cerita itu, suara motor suaminya sudah terdengar. Aduuuh nasiiiib, tambah buru-buru deh dia meriasku.

Riasan pun dianggap selesai sama dia dan aku harus segera beralih ke jilbab stylish. Ama jilbab stylish aku disuruh pakai baju dulu biar lebih mudah memadumadankan jilbabnya. Sambil agak terburu-buru memakai kebaya dan songketnya, gak tersadar kacamataku terjatuh. Hikzzzz, gompel deh! Untuk menggantinya pun bukan ringan di kantong. Dasar apes banget deh hari itu karena selesai aku berpakaian, eh jilbab stylish yang tadi menyuruh aku untuk berganti pakaian malah sibuk ngurus yang lain. Ada gaun-gaun gitu yang dia bawa. Aku yang udah menuju ruangan sebelah untuk mengenakan jilbab jadi kebingungan. Mana gak ada yang peduli juga. Baru deh setelah aku nyamperin jilbab stylish yang lagi mondar-mandir bawa gaun, dia lempar aku ke perias lainnya. OMG!

Ama perias yang bisa jilbab stylish ini aku ditanyakan soal ciput cepol. Untung udah bawa 3 alternatif. Jilbab pun udah bawa 5 gradasi warna. Dari 5 hanya diambil 2 sajah. Brosnya pun sudah kupersiapkan tapi sama sekali gak ditanya dan gak disentuh😦. Ciput cepol yang akhirnya terpilih adalah (justru) yang berwarna krem. Anehnya dipasangnya agak di bawah kerudung biasanya kan ciput-ciputan kan gak pernah nongol yach?

Mau koreksi tapi takut salah secara itu salon terkenal gitu loh. Sekali lagi hanya bisa pasrah. Huaaaa tambah parah jadinya waktu dia gak membuat gaya jilbab yang khusus orang-orang chubby alias pipi tembem. Mana tadi waktu dirias gak ada sama sekali dishading untuk lebih membuat tirus wajahku😦

Setelah semua selesai dikerjakan dan aku pun membayar sejumlah 150 ribu, aku hanya bisa bergumam dalam hati tentang betapa tidak puasnya aku. Klo cuma seperti itu siy aku udah bisa sendiri. Padahal harapannya bakal agak dramatis sedikit kalau dirias di salon terkenal. Eye shadownya boro-boro ada teknik smokey eyesnya, bener-bener biasa. Shading sama sekali gak ada, alis gak sinkron, bulu mata naik turun, lipstik gak matchiiing banget!.

Dan itu semuah gara-gara mereka semua sudah kebelet pengen pulang. Huaaaaaa!!!

Pengalaman apes bener deh hari ituh. Sampai saat ini, kacamataku masih gompel. Entah kapan bisa menggantinya. Setidaknya jika hasil riasannya bagus, bisa jadi pelipur lara akan kacamata yang gompel, tapi nasi sudah jadi bubur. Aku hanya bisa membatin.

Mudah-mudahan Allah melihat segala upayaku untuk mempersiapkan diri melaksanakan tugas. AMIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: